24 Februari 2011

LeLe dan Lamongan

sekedar sharing tentang pertanyaan-pertanyaan dari beberapa teman yang ditujukan kepada diriku.
"kenapa orang Lamongan nggak boleh makan ikan lele??"
ya kan secara saya orang LA (Lamongan Asli) makanya ditanyain tentang begituan


ini nih jawabannya.

Dulu, ada seorang Nyi Lurah yang meminjam piandel berupa keris kepada salah seorang waliullah/sunan (kemungkinan Sunan Ampel) untuk mencegah huru-hara sekaligus untuk menjaga kewibawaannya di wilayahnya (sekitar wilayah Bojonegoro). Kanjeng Sunan pun memberikan keris yang dimilikinya kepada Nyi Lurah dengan beberapa syarat. Diantaranya adalah tidak boleh menggunakan keris tersebut untuk kekerasan (menumpahkan darah) dan harus segera dikembalikan kepada Sunan tersebut secara langsung setelah tujuh purnama (tujuh bulan).

Akhirnya Nyi Lurah berhasil mewujudkan cita-cita dan harapannya itu. Namun setelah tujuh purnama terlewati, Nyi Lurah belum juga mengembalikan keris kepada Kanjeng Sunan. Khawatir terjadi penyalahgunaan pada pusakanya, Kanjeng Sunan kemudian mengutus salah seorang muridnya untuk menemui Nyi Lurah dan mengambil kembali keris Kanjeng Sunan.

Sampai di tempat Nyi Lurah, murid Kanjeng Sunan pun segera menemui Nyi Lurah. Saat murid tersebut menghadap dan mengutarakan maksudnya untuk mengambil keris Kanjeng Sunan, Nyi Lurah bersikeras tidak mau menyerahkan keris tersebut. Karena merasa tidak mendapat sambutan yang baik atas niatnya, akhirnya sang murid berencana untuk diam-diam mengambil keris pusaka di rumah Nyi Lurah.

Pada suatu malam, murid tersebut memasuki rumah Nyi Lurah dan berhasil menggambil keris. Namun, Nyi Lurah telah menyadari bahwa keris pusaka telah dicuri. Serta merta seluruh warga desa berbondong-bondong mengejarnya. Kejar mengejar ini berlangsung sangat jauh hingga mencapai daerah Lamongan. Pada saat di perbatasan daerah Babat-Pucuk, murid tersebut merasa terpojok karena sebuah pohon asam besar menghalangi jalannya. Dan ketika anak tombak dilemparkan kedadanya ternyata seekor kijang lewat menyelamatkannya, hingga yang terkena tombak adalah kijang. Atas kejadian tersebut, sang murid bersyukur kepada Allah dan berujar bahwa anak cucu dan keturunannya kelak tidak boleh memakan daging kijang karena binatang tersebut telah menyelamatkan nyawanya.

Sang murid terus melanjutkan perjalannya ke arah Surabaya, sementara para penduduk tadi masih tetap mengejarnya. Hingga dia terjebak pada sebuah jublangan/kolam yang di dalamnya penuh dengan Ikan Lele yang memiliki pathil yang mematikan. Sementara, dari kejauhan terlihat para penduduk yang semakin dekat menuju ke arahnya dan tidak ada jalan lain selain menyeberangi kolam Lele di depannya. Namun dengan keyakinan hati dan memohon perlindungan kepada Allah, akhirnya diapun menceburkan diri ke dalam kolam penuh Ikan Lele. Ternyata tak satupun Ikan Lele menyerangnya bahkan dengan tenang dia bisa menyelam dengan ikan-ikan lele berkerumun di atasnya. Karena melihat banyak Ikan Lele berenang di atas kolam maka penduduk menganggab bahwa si pencuri tersebut tidak mungkin bersembunyi di kolam penuh Ikan Lele yang memiliki pathil yang sangat mematikan. Warga desa yang mengejarnya itu pun mengalihkan pencariannya ke tempat lain. Setelah itu menyembullah sang murid ke permukaan kolam. Dengan mengucap puji syukur kepada Allah dan lagi-lagi dia berujar bahwa anak, cucu dan keturunannya kelak untuk tidak memakan Ikan Lele, karena ikan tersebut telah menyelamatkan hidupnya. Daerah tempat diucapkannya wasiat tersebut berada di sekitar daerah Glagah Lamongan. Akhirnya, sang murid berhasil menyerahkan kembali pusakanya pada Kanjeng Sunan.

Beberapa cerita mengatakan bahwa murid yang mencuri keris pusaka tersebut bernama Ronggohadi (saat ini menjadi salah satu jalan di Kota Lamongan). Dia adalah orang yang kelak membabat alas Lamongan dan menjadi bupati pertama Lamongan yang bergelar Bupati Surajaya.


*copas dari website-nya LA kota tercinta. hihihi lagi males ngetik soalnya*

tapi tidak semua warga lamongan mematuhi larangan tersebut karena banyak juga yang suka makan ikan lele dan itu terbukti dengan banyaknya warung makan pecel lele yang penjualnya orang lamongan

hmm.. semua itu tergantung dari pribadi masing-masing yang mau percaya atau tidak dengan mitos tersebut, saya sebagai warga yang baik hati dan tidak sombong menghormati itu dengan tidak memakannya
*aichhh.. ngaku2 warga negara yg baik padahal KTP udah expired 1bulan gak di urus2.. hahahhaha dasar geblek*

6 komentar:

Todi saja mengatakan...

wah..cerita asal usul yang menarik punya nih mbak... tapi followernya ada pegawai kelurahan ga tuh??? ntar kena sweeping lagi gara2 KTP expired..hehehe

ajenkthree mengatakan...

hhehehe untung belum kena razia KTP :)

asal usul dari suatu daerah memang selalu menarik untuk diperbincangkan, itung2 buat nambah wawasan bangsa kita yg punya beraneka ragam budaya

Gaphe mengatakan...

ooh begono yah ceritanya?

padahal lele goreng kan enak.. apalagi lele penyet atau pecel lele..

hahaha..

balik ke masalah kepercayaan sih, mau ngikutin apa nggaknya

ajenkthree mengatakan...

@gaphe, iyeh begitu ceritanya..
hahahaha dasar tukang makan :p

John Terro mengatakan...

bagaimana pun itu hanya mitos
jangan terbawa oleh mitos :D

hoedz mengatakan...

ouw .. gitu toh .. saya juga penasaran kenapa gak boleh makan lele .. padahal kalo di goreng kering trus di sambel trasi .. pake nasi hangat .. busyet deh ... enak benerrrrrrrrr ...